Memenuhi kebutuhan makan dan minum merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan lansia. Seiring bertambahnya usia, perubahan pada nafsu makan, kemampuan mengunyah, kemampuan menelan, indra pengecap, serta kondisi kesehatan dapat membuat lansia mengalami kesulitan untuk mendapatkan asupan yang cukup. Karena itu, keluarga perlu memberikan perhatian lebih terhadap pola makan dan minum orang tua agar kebutuhan nutrisi serta cairan tetap terpenuhi.
WHO menjelaskan bahwa lansia memiliki kebutuhan nutrisi yang dapat berbeda karena adanya perubahan fisiologis, tingkat aktivitas, kondisi kesehatan, dan perubahan pola makan. Selain itu, penurunan nafsu makan dan asupan makanan pada usia lanjut dapat meningkatkan risiko kekurangan nutrisi. Informasi lebih lengkap mengenai pola makan sehat pada usia lanjut dapat dibaca melalui panduan WHO tentang healthy ageing. Panduan WHO tentang pola makan pada usia lanjut
Dalam kehidupan sehari-hari, membantu lansia makan dan minum bukan hanya tentang menyediakan makanan. Lingkungan saat makan, waktu makan, kondisi mulut dan gigi, kemampuan menelan, jenis makanan, hingga dukungan dari keluarga juga dapat memengaruhi keberhasilan pemenuhan kebutuhan nutrisi. Oleh sebab itu, pendekatan yang sabar dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing lansia sangat diperlukan.
Mengapa Kebutuhan Makan dan Minum Lansia Perlu Diperhatikan?
Makanan menyediakan energi dan berbagai zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan aktivitas serta mempertahankan fungsi tubuh. Protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan zat gizi lainnya memiliki peran masing-masing dalam mendukung kesehatan.
Pada usia lanjut, kebutuhan energi dapat menurun karena aktivitas fisik dan perubahan metabolisme. Namun, kebutuhan terhadap beberapa zat gizi tetap perlu diperhatikan. WHO mencatat bahwa lansia perlu mendapatkan makanan yang cukup mengandung nutrisi dan protein karena berkurangnya asupan makanan dapat berkontribusi terhadap kehilangan massa tubuh tanpa lemak.
Selain makanan, cairan juga tidak kalah penting. Lansia dapat lebih mudah mengalami kekurangan cairan karena rasa haus dapat menurun, sementara kondisi tertentu seperti demam, diare, muntah, atau penggunaan obat dapat meningkatkan kehilangan cairan.
Karena itu, keluarga sebaiknya memperhatikan kebutuhan makan dan minum sebagai dua hal yang saling berkaitan dalam perawatan lansia di rumah.
Mengapa Lansia Sering Mengalami Penurunan Nafsu Makan?
Penurunan nafsu makan dapat terjadi karena berbagai alasan. Perubahan pada indra pengecap dan penciuman dapat membuat makanan terasa kurang menarik dibandingkan sebelumnya. Kondisi gigi dan mulut juga dapat memengaruhi kenyamanan saat mengunyah.
Di sisi lain, beberapa obat, penyakit tertentu, kurang aktivitas, perubahan suasana hati, atau kebiasaan makan sendirian juga dapat memengaruhi selera makan. National Institute on Aging (NIA) menjelaskan bahwa masalah seperti kesulitan mengunyah atau menelan, perubahan rasa makanan, keterbatasan fisik, dan tidak merasa lapar dapat menjadi hambatan bagi lansia untuk menerapkan pola makan sehat.
Oleh karena itu, ketika lansia mulai sering melewatkan waktu makan atau jumlah makanan yang dikonsumsi semakin berkurang, keluarga perlu mencari tahu penyebabnya. Jangan langsung menganggap bahwa lansia memang sudah tidak membutuhkan banyak makanan.
Berikan Makanan dalam Porsi yang Sesuai
Lansia yang memiliki nafsu makan rendah terkadang merasa kesulitan jika langsung diberikan makanan dalam porsi besar. Porsi yang lebih kecil dapat terasa lebih mudah dihabiskan dan tidak terlalu membebani pasien.
Sebagai alternatif, makanan dapat diberikan dalam beberapa waktu makan dengan jumlah yang disesuaikan. WHO juga menyebutkan bahwa lansia dapat memperoleh manfaat dari beberapa kali makan dalam porsi kecil, terutama ketika nafsu makan menurun.
Namun demikian, jumlah dan jadwal makan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing orang. Lansia dengan diabetes, penyakit ginjal, gangguan jantung, atau kondisi medis lainnya mungkin memiliki aturan makan yang berbeda.
Pilih Makanan yang Padat Nutrisi
Ketika jumlah makanan yang dikonsumsi tidak terlalu banyak, kualitas makanan menjadi semakin penting. Pilih makanan yang memberikan berbagai zat gizi dalam porsi yang sesuai.
Makanan yang dapat menjadi bagian dari pola makan lansia antara lain sayuran, buah, sumber protein, biji-bijian, kacang-kacangan, serta produk susu jika sesuai dengan kondisi pasien. NIA merekomendasikan lansia untuk mengonsumsi berbagai kelompok makanan, termasuk buah, sayuran, biji-bijian, makanan sumber protein, dan produk susu.
Sementara itu, WHO menganjurkan pola makan yang beragam dengan mengutamakan makanan bergizi, termasuk buah, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian utuh, serta sumber protein.
Dengan makanan yang beragam, kebutuhan berbagai zat gizi dapat lebih mudah terpenuhi dibandingkan jika lansia hanya mengonsumsi satu atau dua jenis makanan secara berulang.
Pastikan Asupan Protein Tetap Diperhatikan
Protein merupakan salah satu zat gizi yang penting untuk menjaga fungsi tubuh dan massa otot. Seiring bertambahnya usia, kehilangan massa otot dapat menjadi perhatian, terutama jika asupan makanan dan aktivitas fisik berkurang.
WHO menjelaskan bahwa lansia dapat mengalami penurunan massa tubuh tanpa lemak dan karena itu perlu mendapatkan asupan nutrisi serta protein yang memadai.
Sumber protein dapat berasal dari ikan, telur, ayam, daging, susu, tahu, tempe, kacang-kacangan, dan makanan lain yang sesuai dengan kebutuhan serta kondisi kesehatan lansia. Bagi pasien yang memiliki penyakit tertentu, pemilihan sumber dan jumlah protein sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter atau ahli gizi.
Sesuaikan Tekstur Makanan dengan Kemampuan Lansia
Tidak semua lansia dapat mengonsumsi makanan dengan tekstur yang sama. Seseorang dengan gigi yang tidak lengkap, nyeri pada mulut, penggunaan gigi palsu, atau gangguan menelan mungkin membutuhkan makanan yang lebih lunak.
Makanan dapat dibuat lebih mudah dikunyah dengan cara dimasak hingga lunak, dipotong kecil, dicincang, atau diolah sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. Tujuannya bukan sekadar membuat makanan lebih mudah dimakan, tetapi juga memastikan proses makan berlangsung dengan aman.
Apabila lansia sering batuk atau tersedak saat makan dan minum, suara berubah setelah menelan, atau tampak kesulitan menelan, keluarga sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. NIA juga mencantumkan masalah mengunyah dan menelan sebagai salah satu hambatan yang dapat membuat lansia kesulitan mendapatkan pola makan yang baik.
Ciptakan Suasana Makan yang Nyaman
Lingkungan saat makan juga dapat memengaruhi nafsu makan lansia. Suasana yang terlalu ramai, terburu-buru, atau penuh tekanan dapat membuat waktu makan menjadi tidak menyenangkan.
Sebaliknya, suasana yang tenang dan nyaman dapat membantu lansia lebih fokus menikmati makanan. Jika kondisi memungkinkan, keluarga dapat menemani lansia selama makan sehingga aktivitas tersebut tidak terasa seperti kewajiban semata.
WHO juga menyoroti pentingnya dukungan sosial dan interaksi dalam kehidupan lansia karena faktor tersebut dapat memengaruhi kesehatan, kesejahteraan, dan kebiasaan makan.
Dengan demikian, menemani lansia makan dapat memberikan manfaat sosial sekaligus membantu keluarga memantau jumlah makanan yang benar-benar dikonsumsi.
Jangan Memaksa Lansia untuk Makan
Ketika lansia menolak makanan, memaksa biasanya bukan solusi yang baik. Penolakan tersebut dapat menjadi tanda adanya masalah tertentu, seperti makanan tidak sesuai selera, sakit gigi, sulit menelan, mual, efek obat, atau kondisi kesehatan lainnya.
Sebaiknya keluarga mencari tahu penyebabnya terlebih dahulu. Cobalah menawarkan makanan yang berbeda dengan tekstur atau rasa yang lebih sesuai, selama makanan tersebut tetap memenuhi kebutuhan dan aturan diet pasien.
Pada orang dengan gangguan kognitif seperti demensia, masalah makan dan minum juga dapat muncul karena pasien tidak mengenali makanan, lupa terhadap makanan yang disukai, atau mengalami kesulitan menelan. NHS memberikan beberapa saran bagi caregiver, termasuk memberikan porsi lebih kecil, menyediakan makanan yang disukai, dan memberikan waktu yang cukup ketika makan.
Bantu Lansia Memenuhi Kebutuhan Minum
Selain makanan, kebutuhan cairan perlu diperhatikan setiap hari. Lansia terkadang tidak merasa haus meskipun tubuh membutuhkan cairan. Kondisi tersebut dapat membuat jumlah minuman yang dikonsumsi menjadi lebih sedikit.
Air putih dapat menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan. Namun, cairan juga dapat diperoleh dari makanan dan minuman lain sesuai kondisi kesehatan pasien.
Keluarga dapat menyediakan air minum di tempat yang mudah dijangkau dan memberikan pengingat secara berkala. Apabila lansia memiliki keterbatasan gerak, bantuan untuk mengambil dan memegang gelas juga mungkin diperlukan.
Jangan Menunggu Lansia Merasa Haus
Rasa haus tidak selalu menjadi indikator yang cukup pada lansia. Perubahan fisiologis akibat proses penuaan dapat membuat sensasi haus berkurang.
Karena itu, keluarga sebaiknya membangun kebiasaan minum secara teratur sesuai kebutuhan pasien. Catatan sederhana mengenai jumlah minuman yang dikonsumsi juga dapat digunakan apabila pasien membutuhkan pemantauan lebih lanjut.
Pada pasien dengan kondisi medis tertentu, pendekatan tersebut tetap harus mengikuti arahan dokter. Pasien dengan pembatasan cairan, misalnya, tidak boleh dipaksa minum melebihi jumlah yang telah ditentukan.
Perhatikan Jenis Minuman yang Diberikan
Tidak semua minuman cocok dikonsumsi secara bebas. Minuman dengan kandungan gula tinggi sebaiknya tidak menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan sehari-hari, terutama bagi lansia yang perlu mengontrol kadar gula darah.
NIA menyarankan lansia memperhatikan pilihan makanan dan minuman dengan mempertimbangkan kandungan gula tambahan, lemak jenuh, dan natrium.
Selain itu, kebutuhan minuman juga harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan. Lansia dengan diabetes, penyakit ginjal, gagal jantung, atau kondisi tertentu lainnya mungkin memiliki aturan konsumsi yang berbeda.
Buat Jadwal Makan dan Minum
Jadwal yang teratur dapat membantu keluarga memantau kebutuhan makan dan minum lansia. Waktu makan dapat disesuaikan dengan rutinitas harian sehingga pasien tidak terlalu lama melewatkan waktu makan.
Selanjutnya, keluarga dapat mencatat makanan dan minuman yang dikonsumsi apabila lansia mengalami penurunan nafsu makan atau sedang dalam pemantauan nutrisi. NIA juga menyarankan penggunaan catatan makanan sebagai salah satu cara untuk memantau pola makan.
Catatan tersebut dapat berisi waktu makan, jenis makanan, jumlah makanan yang dihabiskan, jumlah minuman, serta keluhan yang muncul setelah makan atau minum. Informasi seperti ini dapat membantu ketika keluarga berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi.
Perhatikan Kebersihan Mulut dan Gigi
Masalah pada gigi dan mulut dapat membuat lansia kehilangan selera makan. Gigi berlubang, gusi yang sakit, gigi palsu yang tidak nyaman, atau mulut kering dapat membuat proses mengunyah terasa menyakitkan.
WHO menekankan bahwa kesehatan mulut dan gigi merupakan bagian penting dalam menjaga status nutrisi serta kualitas hidup lansia.
Karena itu, kebersihan mulut sebaiknya tetap diperhatikan setiap hari. Apabila lansia mengeluhkan nyeri saat mengunyah atau mengalami masalah dengan gigi palsu, pemeriksaan oleh dokter gigi dapat dipertimbangkan.
Bagaimana Jika Lansia Sulit Mengunyah atau Menelan?
Kesulitan mengunyah dan menelan membutuhkan perhatian khusus. Jangan langsung mengganti semua makanan menjadi cair tanpa mengetahui penyebab dan kebutuhan pasien.
Apabila lansia sering tersedak, batuk saat makan atau minum, membutuhkan waktu sangat lama untuk menelan, atau mengalami perubahan suara setelah makan dan minum, sebaiknya keluarga berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Evaluasi dapat membantu menentukan tekstur makanan dan cara makan yang lebih aman.
Terlebih lagi, pasien dengan riwayat stroke atau gangguan saraf mungkin membutuhkan perhatian khusus dalam hal kemampuan menelan. Pendampingan sebaiknya dilakukan berdasarkan hasil penilaian tenaga kesehatan.
Perhatikan Tanda Lansia Kekurangan Nutrisi
Kekurangan nutrisi tidak selalu langsung terlihat. Penurunan berat badan yang tidak direncanakan, tubuh semakin lemah, berkurangnya massa otot, mudah lelah, atau nafsu makan yang terus menurun dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan.
WHO menjelaskan bahwa lansia memiliki risiko malnutrisi yang lebih tinggi dan kondisi seperti penurunan nafsu makan, gangguan indra pengecap dan penciuman, masalah kesehatan mulut, isolasi sosial, serta penyakit tertentu dapat meningkatkan risiko tersebut.
Apabila perubahan tersebut berlangsung terus-menerus, keluarga sebaiknya tidak hanya meningkatkan jumlah makanan secara sembarangan. Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi dapat membantu menentukan penyebab dan kebutuhan nutrisi pasien.
Kapan Lansia Membutuhkan Konsultasi Gizi?
Konsultasi gizi dapat dipertimbangkan ketika lansia mengalami penurunan berat badan, nafsu makan yang terus berkurang, memiliki penyakit tertentu, mengalami kesulitan makan, atau membutuhkan pola makan khusus.
Ahli gizi dapat membantu menyesuaikan pilihan makanan dengan kebutuhan energi, protein, vitamin, mineral, serta kondisi kesehatan pasien. WHO juga merekomendasikan intervensi nutrisi dan konseling diet untuk lansia yang mengalami kekurangan nutrisi, dengan kebutuhan yang disesuaikan melalui penilaian tenaga kesehatan.
Dengan pendekatan tersebut, keluarga tidak perlu menebak-nebak makanan apa yang paling sesuai untuk kondisi pasien.
Peran Keluarga dalam Membantu Lansia Makan dan Minum
Keluarga memiliki peran penting dalam menciptakan kebiasaan makan dan minum yang baik. Bantuan sederhana seperti menyiapkan makanan, menyediakan air minum, menemani waktu makan, serta mengingatkan jadwal makan dapat membantu lansia memenuhi kebutuhan hariannya.
Selain itu, keluarga dapat memperhatikan perubahan selera, jumlah makanan yang dihabiskan, kemampuan mengunyah, kemampuan menelan, dan jumlah cairan yang dikonsumsi. Informasi tersebut berguna untuk mengetahui apakah terdapat perubahan dari kebiasaan sebelumnya.
Namun, keluarga juga perlu mengetahui batasannya. Jika muncul masalah seperti tersedak berulang, penurunan berat badan yang signifikan, muntah terus-menerus, tidak mampu makan atau minum, atau perubahan kondisi yang mengkhawatirkan, bantuan tenaga kesehatan perlu segera dipertimbangkan.
Peran Home Care dalam Mendampingi Lansia
Perawatan lansia di rumah membutuhkan waktu dan perhatian yang cukup. Bagi keluarga yang memiliki pekerjaan atau aktivitas lain, mendampingi lansia sepanjang hari terkadang menjadi tantangan.
Dalam kondisi tersebut, layanan home care dapat membantu keluarga dalam memberikan pendampingan sesuai kebutuhan. SA3 Home Care menyediakan layanan kesehatan di rumah yang mencakup pendampingan lansia, perawat, dokter, konsultasi gizi, serta berbagai layanan lain. Informasi mengenai layanan tersebut dapat dilihat melalui halaman layanan SA3 Home Care.
Selain itu, SA3 Home Care telah menyediakan layanan home care sejak 2016 dan berpusat di Bandung. Informasi mengenai profil dan layanan perusahaan dapat dibaca melalui halaman Tentang Kami SA3 Home Care.
Bagi keluarga yang membutuhkan pendampingan pasien di rumah, tersedia pula informasi mengenai jasa perawat home care SA3 Home Care. Sementara itu, keluarga yang membutuhkan bantuan khusus untuk lansia dapat melihat informasi mengenai layanan caregiver lansia SA3 Home Care.
Tips Praktis Membantu Lansia Makan dan Minum Setiap Hari
Agar lebih mudah diterapkan, keluarga dapat menggunakan beberapa kebiasaan sederhana. Pertama, buat jadwal makan dan minum yang teratur. Selanjutnya, sediakan makanan dengan porsi yang sesuai dan pilih bahan makanan yang kaya nutrisi.
Kemudian, sesuaikan tekstur makanan dengan kemampuan lansia. Pastikan posisi tubuh aman saat makan dan berikan waktu yang cukup agar lansia tidak terburu-buru.
Selain itu, letakkan air minum di tempat yang mudah dijangkau. Jika lansia membutuhkan bantuan, dampingi proses minum dan perhatikan apakah muncul batuk atau tersedak.
Terakhir, catat perubahan yang terlihat. Penurunan nafsu makan, berat badan yang menurun, kesulitan menelan, atau jumlah minum yang semakin sedikit sebaiknya tidak diabaikan.
Kesimpulan
Membantu lansia memenuhi kebutuhan makan dan minum membutuhkan perhatian, kesabaran, dan pemahaman terhadap kondisi masing-masing individu. Kebutuhan nutrisi pada usia lanjut dapat dipengaruhi oleh perubahan nafsu makan, kemampuan mengunyah, kesehatan mulut, kemampuan menelan, aktivitas, penyakit, obat-obatan, serta kondisi sosial.
Oleh sebab itu, keluarga sebaiknya menyediakan makanan yang beragam dan kaya nutrisi, menyesuaikan tekstur makanan, memberikan porsi sesuai kemampuan, serta menciptakan suasana makan yang nyaman. WHO dan NIA sama-sama menekankan pentingnya pola makan beragam dan bergizi bagi kesehatan lansia.
Sementara itu, kebutuhan minum juga perlu dipantau karena lansia dapat mengalami penurunan rasa haus. Pemberian cairan harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan, terutama pada pasien yang memiliki penyakit atau mendapatkan pembatasan cairan dari dokter.
Dengan dukungan keluarga dan pemantauan yang baik, kebutuhan makan dan minum lansia dapat lebih terjaga. Apabila keluarga mengalami kesulitan memberikan pendampingan secara rutin, layanan profesional seperti SA3 Home Care dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu perawatan lansia di rumah.
Untuk mengetahui layanan yang tersedia, keluarga dapat mengunjungi website resmi SA3 Home Care atau menghubungi halaman kontak SA3 Home Care untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
Pesan Layanan SA3 Home Care
Jika keluarga membutuhkan tenaga pendamping untuk perawatan pasien di rumah, Anda dapat berkonsultasi dengan SA3 Home Care mengenai kondisi dan kebutuhan pasien.
Sampaikan kondisi pasien, aktivitas yang membutuhkan bantuan, tingkat kemandirian, jadwal keluarga, serta durasi pendampingan yang diharapkan agar layanan dapat disesuaikan.
Untuk pemesanan secara digital, keluarga juga dapat menggunakan ihomecare.id sebagai jalur pemesanan layanan home care.
SA3 Home Care
🌐 Website: jasaperawatbandung.com
📷 Instagram: @sa3homecare
📱 Pemesanan digital: ihomecare.id
📞 Hubungi SA3 Home Care melalui WhatsApp untuk konsultasi dan pemesanan layanan.
Mengenal ihomecare.id
ihomecare.id merupakan jalur pemesanan digital yang dapat digunakan keluarga untuk mencari dan memesan layanan home care.
Keluarga dapat menggunakan jalur digital tersebut untuk memulai proses pemesanan caregiver maupun perawat home care dari rumah.
Dengan adanya ihomecare.id sebagai jalur pemesanan digital, keluarga memiliki pilihan tambahan ketika membutuhkan tenaga pendamping untuk membantu perawatan atau aktivitas pasien di rumah.
